Menengok Kuliner Mi Ayam Terbang Cak Uji yang Kini Hits di Yogya




Seorang pedagang kaki lima (PKL) mengamuk lantaran tak terima gerobaknya diangkut Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Matraman, Jakarta Timur. Pedagang mie ayam itu tak henti-hentinya meronta di hadapan petugas saat Satpol PP mengamankan gerobaknya.
Meski begitu, petugas tetap mengangkut gerobak itu karena mengganggu pejalan kaki. Sejumlah lapak PKL yang berada di trotoar kawasan Matraman juga diangkut petugas. Razia lapak pedagang ini digelar untuk memfungsikan kembali trotoar bagi pejalan kaki.

Kota Yogyakarta sejak dahulu identik dengan Kota Pelajar. Tak terhitung lagi berapa jumlah mahasiswa yang hilir mudik masuk ke kota tersebut. Tak mengherankan, salah satu imbas banyaknya mahasiswa adalah menjamurnya aneka ragam kuliner.
Salah satu jenis kuliner yang tumbuh subur di Yogya adalah mi ayam. Tak sulit menemukan ragam mi ayam di Yogya, mulai dari mie ayam Bangka, mi ayam Wonogiri, hingga mi ayam Jakarta. Namun, ada salah satu mi ayam yang memiliki penyajian unik. Sebelum menyantap mi, pembeli akan dihibur atraksi lempar mi.
Ialah Cak Uji (51), pemilik warung mi ayam terbang lempar pangsit yang setia menghibur konsumen dengan atraksi nylenehnya. Kepada kumparan, pria yang bernama asli Ali Fauzi tersebut berkisah bagaimana ia mengembangkan usaha mi ayam kaki lima yang terletak di Jalan Kolonel Sugino, Kota Yogyakarta.
Larisnya warung mi Cak Uji ini telah tampak ketika kumparan yang tiba di lokasi pukul 20.00 WIB, Selasa (18/9). Mayoritas pembeli muda-mudi kisaran usia kuliah. Pukul 23.00 WIB, Cak Uji baru bisa mengendurkan ototnya, ketika pembeli tak lagi ramai Cak Uji meluangkan waktunya untuk mengobrol dengan kumparan.
“(Nama) saya Ali Fauzi. Untuk bakul mi ayam terlalu keren nama itu, maka saya kalau tulisan yang lama pakai Cak Uji ciri khas Jawa Timur, Lamongan,” ceritanya.
Sedikit aneh ketika mendengar nama Lamongan, kota tersebut erat kaitannya dengan pedagang jenis masakan pecel lele dan soto. Namun apa yang melatarbelakangi Cak Uji berdagang mi ayam? Ternyata semua itu berawal dari salah satu kota di Jawa Barat yaitu Cianjur
“Saya jualan di Jogja, pindahan Cianjur 1991. Tapi sebelumnya sudah jualan (mi ayam) di Cianjur 2 tahun lebih,” kisahnya.
Di Cianjur, waktu itu medio 1988 Cak Uji ikut juragannya berjualan mi ayam. Boleh dibilang, Cak Uji memulai semuanya dari nol. Di Cianjur pula lah Cak Uji secara otodidak belajar atraksi lempar mi.
“Sejak pertama, belajar di Cianjur mulai lempar-lempar (mi) cuma di Cianjur belum begitu lincah dan tempat juga tidak selebar ini jadi lemparannya asal dilempar gitu,” jelasnya.
Atraksi lempar mie kemudian berlanjut di Jogja. Setelah modal dari Cianjur dirasa cukup, Cak Uji kemudian membuka warung mi di tempat saat ini. Ya, sejak tahun 1991 Cak Uji tidak pernah pindah warung. Mungkin yang membedakan jika dahulu Bank Harapan Sentosa Cabang Pembantu masih buka, kini bank tersebut telah tutup.
“Pindah ke Jogja ini saya punya gambaran kalau di Jogja banyak anak kos, kalau tengah malam cari mi maka saya sengaja pindah ke Jogja untuk biar cari pasaran anak-anak kos,” bebernya.
“Ya langsung di sini (Jalan Kolonel Sugiono) dulu ketika bank ini masih aktif kita nembung (izin) sama pihak bank dan diperbolehkan. Bank tersebut likuidasi tahun ’98 itu kan krisis moneter jadi tutup,” timpalnya.
Ketika di Yogya, atraksi Cak Uji ini ternyata menarik perhatian pembeli. Sejumlah pembeli kemudian menjuluki Cak Uji bermacam-macam mulai dari mi terbang, lempar, hingga uncal. Maka, Cak Uji kemudian memilih nama warungnya menjadi Mi Ayam Terbang Lempar Pangsit
Alasan Cak Uji melakukan atraksi lempar mi ternyata tak sekedar iseng tanpa manfaat. Ia menceritakan, pada awalnya cara tersebut dilakukan untuk meniriskan mi.
“Awalnya kita goyang-goyang biar airnya tiris cepat. Air rebusan itu kan mengandung aci jadi kalau bahan mie sendiri murni tepung terigu. Cuma acinya untuk memisahkan satu persatu itu tapi ikut kerebus akhirnya kan kalau enggak ditiriskan mempengaruhi rasa. Sawi juga ditiriskan baru ditaruh di mangkok,” katanya.
Namun bukan tanpa kendala, pernah juga mi tersebut jatuh pada saat atraksi. Oleh karennya Cak Uji memiliki kode khusus agar karyawannya paham ketika Cak Uji hendak beratraksi. Dengan begitu akan ada ruang yang lebih longgar dan Cak Uji bisa fokus atraksi.
“Ya pasti ada (kendala) kalau kita pas capek kesenggol kurang komunikasi. Makanya saya kasih kode tek tek (suara dari alat peniris mi yang dipukul-pukul) biar ada kode yang di belakang,” cetusnya.
Sempat Diejek
Kendala lain datang dari rekan-rekan sesama perantauan dari Lamongan. Karena berjualan jenis makanan yang berbeda, tak jarang saat awal merintis Cak Uji jadi bahan ejekan. Namun candaan rekan-rekannya tersebut tak melunturkan keteguhan hatinya untuk berjualan mi ayam.
“Ya kalau di kalangan teman-teman pada ngejek beda sendiri, semua (jualan) pecel lele, soto, saya mi ayam sendiri memang dulunya juga belajarnya dari soto. Cuma saya di Jogja satu kampung di sini ada 57 orang (asal satu kampung) yang saya sendiri mi ayam lainnya pece lele. Maka saya berbeda sendiri,” tegasnya.
Saat ini, Cak Uji dibantu lima karyawan termasuk anak pertama dan istrinya. Dalam sehari, ia mampu menjual 300 porsi mi ayam. Satu mangkok mi ayam dijual Rp 8 ribu dan minuman seperti es teh dan es jeruk Rp 2 ribu. Setiap harinya ia berjualan mulai pukul 18.00 WIB hingga 01.00 WIB dini hari.
“Dulu tahun 1991 saya jual Rp 350. Alhamdulillah saya putra 3. Alhamdulillah yang pertama S1, nomor dua semester 6 di UPN Yogya, nomor 3 kelas 3 SMA. Laki, perempuan, laki,” ungkapnya.
Setelah puas mengetahui sejarah Cak Uji, lalu bagaimana rasa mi buatan pria asal Lamongan tersebut? Dari segi tampilan, mi ayam yang disajikan tampak memilii porsi lebih banyak. Sawi yang diberikan pun lebih banyak dibanding mi ayam lainnya.
Berbeda dengan mi ayam di Yogya yang manis, rasa mi ayam Lamongan ini cenderung gurih. Karakter rasa seperti itu bisa menjadi alternatif pilihan bagi penikmat mi ayam. Sementara itu, mie buatan Cak Uji juga kenyal. Porsi daging yang diberikan juga terasa pas, tidak terlalu banyak dan terlalu sedikit.
“Rasa memang gurih, tekstur mi-nya lembut. Lebih penting sawi juga banyak,” ujar Heny salah seorang pembeli.
Tertarik mencicip mi ayam terbang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post